Meskipun akhir-akhir ini prestasi Indonesia di bidang bulu tangkis sedang menurun, namun harus diakui, bahwa Indonesia pernah memiliki reputasi yang sangat membanggakan di bidang ini. Indonesia berkali-kali menorehkan sejarah lewat cabang olahraga satu ini. Nama Indonesia sempat menjadi yang paling disegani di event-event internasional.
Hal tersebut tidak lepas dari kerja keras dan kegigihan para atlet. Di tengah kondisi stabilitas ekonomi dan politik Indonesia yang kala itu masih berusaha bangkit, para atlit ini terus mencetak prestasi yang mencengangkan dunia. Bahkan ada masanya dimana orang-orang Eropa percaya bahwa semua orang Indonesia jago bermain bulu tangkis.
Hingga saat ini, tidak ada yang bisa mengalahkan rekor pria yang lebih dikenal sebagai Rudy Hartono ini. Dia juga pernah menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama. Rudy juga pernah membintangi sebuah film berjudul “Matinya Seorang Bidadari” pada tahun 1971.
Liem Swie King adalah salah satu dari generasi emas kedua di pebulutangkisan Indonesia, khususnya di cabang tunggal putra. Dia dianggap sebagai legenda yang meneruskan kejayaan Rudy Hartono. Meski prestasinya tidak sepanjang Rudy Hartono, namun Liem berhasil memenangkan piala All England sebanyak 3 kali dan empat kali menjadi runner up.
Putra tunggal dari delapan bersaudara ini memang sudah menggemari badminton sejak masa kanak-kanaknya. Dia memiliki gaya smash yang sangat khas yang dijuluki sebagai The King Smash alias smash raja. Pada tahun 2002 dia masuk ke dalam daftar Badminton Hall of Fame. Kisah hidup Liem Swie King pernah diangkat ke dalam layar lebar ke dalam sebuah film berjudul “KING”.
Pria yang lahir pada 29 Maret 1968 ini merupakan pemain badminton yang memiliki masa keemasan diantara akhir tahun 80-an hingga pertengahan 90-an. Pada tahun 1992 dia memenangkan piala Olimpiade Barcelona, yang merupakan rekor pertama bagi Indonesia. Meski merupakan salah satu Pemain Bulutangkis Terbaik Indonesia Sepanjang Masa, namun Alan belum pernah merasakan jadi juara dari All England maupun Thomas Cup.
Namun peraihan medali emasnya pada Olimpiade Barcelona merupakan salah satu momen paling bersejarah yang dirayakan sorak-sorai oleh bangsa Indonesia. Piala tersebut pulalah yang membuat Alan mendapatkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama, seperti yang dianugerahkan kepada Rudy Hartono.
Haryanto adalah pemain bulutangkis Indonesia yang dikenal dengan julukan “Smash 100 watt” karena kecepatannya yang sangat dahsyat. Pria yang lahir 21 Januari 1972 ini adalah salah satu Pemain Bulutangkis Terbaik Indonesia Sepanjang Masa di era 90-an. Dia adalah adik dari pemain bulu tangkis Eddy Hartono dan Hastomo, yang juga merupakan pemain bulu tangkis kelas dunia.
Haryanto memenangkan banyak sekali piala diantaranya pada Chinese Taipei Open, Japan Open, Badminton World Cup, Hong Kong Open, Korea Open, Singapore Open, SEA Games dan Asian Games. Dia juga menjadi tim dari pemain Thomas Cup dari Indonesia yang menang berturut-turut di tahun 1994, 1996 dan 1998. Dia juga meraih gelar IBF Historical Ranking untuk tunggal putra pada tahun 1995.
Kini Taufik Hidayat telah resmi berhenti menjadi atlet dan mendirikan sebuah training center di daerah Jakarta Timur. Taufik pernah menjadi salah satu atlet yang masuk ke majalah Times untuk kategori “100 Atlet Olimpiade yang Harus Ditonton”. Dan kini, dia tetap dikenang sebagai salah satu Pemain Bulutangkis Terbaik Indonesia Sepanjang Masa.
Nah, itulah 5 Pemain Bulutangkis Terbaik Indonesia Sepanjang Masa yang telah menorehkan prestasi terbaik mereka di kancah internasional. Kini, beberapa dari atlet di atas memutuskan untuk terus mengabdi kepada negeri sebagai pelatih bulutangkis. Sebagian lainnya membuka usaha dan memilih menjadi pebisnis.






